yusriahismail.com

Metode Homeschooling Klasik

metode homeshooling klasik
Ada yang penasaran gak sih kira-kira metode belajar abad pertengahan itu seperti apa? Kenapa sih hasil pendidikan abad pertengahan itu menghasilkan filsuf-filsuf handal? Dan kayaknya gak cuma jago filsafat ya, tapi juga ahli science dan seni.

Cocok banget nih karena saya mau mengulas metode homeschooling klasikal yang menghasilkan ilmuwan sekaligus filsuf dan pemikir besar yaitu metode homeschooling klasik.

Whuaaa..gak nyangka akhirnya bisa sampai membahas 10 model kurikulum homechooling yang bisa dijadikan acuan. Dan insyaallah ini yang terakhir ya. Meskipun sebenarnya banyak banget metode jika diulik-ulik lagi.

Apalagi homeschooling sendiri itu unik banget. Tiap keluarga homechooler memiliki metode belajarnya sendiri-sendiri.

So, kalau ada 150 ribu keluarga homeschooler di dunia maka metode homeschoolingnya ya sebanyak itu.

Saking unik dan menyesuaikan value dari masing-masing keluarga.

Nah, sekarang yuk temani saya spill tentang apa itu metode homeshooling klasik.

Sekilas Tentang Abad Pertengahan


Metode ini bisa dikatakan sebagai model homeshooling tertua yang ada di dunia. Sebab kurikulumnya sendiri sudah ada sejak abad pertengahan dan baru mulai populer di zaman renaisans.

Jika kembali menyusuri sejarah, abad pertengaha itu dimulai dari runtuhnya kekaisaran romawi barat hingga ditandai dengan adanya musibah, penyakit musiman hingga pemberontakan rakyat jelatan terhadap kerajaan di Eropa.

Jadi sekitar 500-1400 tahun yang lalu ya sobat yusri. Mulai dari abad ke-5 hingga ke-15.

Mungkin anggapan kita itu jaman tempoe doeloe ya, namun pemikir ulung justru lahir disana. Katakanlah Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al-Ghazali.

Buktinya karya-karya beliau-beliau ini masih kita pakai kan? Bahkan jadi rujukan keilmuwan saat ini.

Gak heran sih sebab ada metode belajar yang membentuk para pemikir keren ini.

Apa Itu Metode Homeschoolng Klasik


Sebenarnya, metode homeschooling klasik ini lebih mengacu pada model pendidikan Yunani jaman dulu. Dimana pembelajarannya mengutamakan pada sejarah, studi literatur hingga aktivitas ilmiah.

Pendekatannya lebih kepada bagaimana cara anak berpikir. Bukan pada apa yang harus dipikirkan. Intinya bagaimana mengasah keterampilan berpikir anak hingga mencapai hidup yang bijaksana.

Model pembelajarannya dikembangkan oleh seorang penulis yaitu Martianus Capella. Beliau menekankan tentang bagaimana anak dapat berpikir sendiri sehingga di metode homeschooling klasik dikenal konsep trivium.

Mengenal Konsep Trivium, Basis Homeschooling Klasik


Trivium sendiri berarti tiga cara. Dimana ada tiga tahapan dalam pembelajarannya yaitu tahapan tata bahasa (pembelajaran konkret), tahapan logika (pembelajaran kritis) dan tahapan retorika (pembelajaran abstrak).

1. Tahapan Tata Bahasa


Tahap ini biasa disebut juga sebagai tahap membangun pondasi. Anak diarahkan untuk membangun basis pengetahuan dengan kuat yang kelak berguna untu kehidupan akan datang.

Ada beberapa pengetahuan inti yang wajib diperdalam yaitu matematika, bahasa, seni, sains, sejarah dan studi sosial.

Model pembelajarannya sendiri berbasis pengulangan dan menghafal.

2. Tahapan Logika


Setelah anak sudah dipenuhi bekal ilmu pengetahuan yang memadai, selanjutnya masuk pada tahapan yang penuh dengan analisa dan argumentasi.

Biasanya ini dijalankan oleh anak dengan usia 9-10 tahun dimana anak sudah punya pendapat sendiri dan penuh pertanyaan.

Rasa ingin tahu anak-anak semakin berkembang sehingga mereka ingin mengontraskan atau melihat hubungan antara yang satu dengan lain hal.

Pertanyaa "mengapa" sangat banyak ketika sudah memasuki tahapan logika. Dan pertanyaan tersebut mendorong anak untuk mencari tahu lebih banyak lagi,

3. Tahapan Retorika


Kebayang ya jika tahapan tata bahasa dan logika anak kuat dan dikuatkan maka tahapan ketiga tidak sulit lagi. Setelah memenuhi pengetahuan mereka lalu meramunya dengan berbagai analisa dan diskusi maka saatnya anak memiliki retorikanya sendiri.

Pada tahapan ini anak akan belajar menulis esai, berbicara didepan umum, politik, ekonomi dan lain sebagainya. Bisa disebut, inilah saatnya anak mengeskspresikan dirinya.

Kemampuan berpikir kritis yang telah didapat dari dua tahapan sebelumnya akan membentuk retorika yang tidak asal-asalan. Atau asbun kalau kata orang. Bukan pula tong kosong nyaring bunyinya, seperti kata pepatah.

Tahapan ini menghadirkan anak yang matang dalam berpikir secara ilmiah, dapat dipertanggungjawabkan dan mungkin saja akan menghasilkan teori-teori baru di masa depan.

Wah, saya kok jadi kebayang, telah lahir Aristoteles muda lahir dari produk homeshooling? Hihi.

Tapii, tentu saja tahapan ini tidak sekaku itu kok.

Namanya juga homeschooling ya. Semunya serba fleksibel.

Jika orangtua merasa bahwa ada beberapa pelaksanaan yang hasilnya kurang maksimal maka tak mengapa jika kembali ke tahap sebelumnya.

Tujuan yang paling mendasar adalah bagaimana anak dan orangtua menjadi pembelajar seumur hidup.

Siapa Yang Cocok Menerapkan Homeschooling Klasik?


Nah, sekarang pertanyaan pentingnya adalah, apakah keluarga kita cocok dengan model homeschooling klasik?

Yuk cek bareng-bareng

  • Apakah sobat yusri adalah orang yang terstruktur. Semua-muanya terjadwal dan well prepared.
  • Apakah ada keinginan untuk rutin mengevaluasi hasil belajar anak sesuai standara akademi?
  • Apakah memiliki sudut pandang bahwa nilai pendidikan yang utama itu adalah berada pada kata-kata tertulis, baik itu menulis dan membaca.
  •  Apakah siap menjadi sastra klasik barat sebagai bahan rujukan dan alat untuk mengembangkan pemikiran kritis anak?
  • Apakah anak sobat yusri termasuk berorientasi akademis?

Referensi

https://www.splashlearn.com/blog/what-is-classical-homeschooling/
https://www.time4learning.com/homeschooling-styles/classical-homeschool.html
https://sains.kompas.com/read/2011/08/10/09312285/~Edukasi~Panduan%20Studi
Yusriah Ismail
A Lifestyle Blogger, Read Aloud Certified and Parenthing Enthusiast

Related Posts

Posting Komentar