Laporkan Penyalahgunaan

dari working mom menjadi mom blogger

ketika working mom jadi blogger

Work Hard, pray hard tapi tak lupa play hard, kata-kata ini cukup menggambarkan seorang Tika. Pekerjaannya sebagai seorang senior consultant di salah satu perusahaan ternama, bukan pekerjaan yang bisa disambi. Makanya saya sangat kagum ketika beliau memilih menjadi working mom usai menikah dan memiliki satu putera.

Working Mom, Pilihan Berat Namun Nikmat

"Dosennya belum masuk kan?" tanya Tika yang nafasnya masih terengah-engah. Kami menggeleng sambil tersenyum. Cepat-cepat dia meneguk minum sebelum dosen benar-benar masuk.

Masih lekat dibenak saya peristiwa itu ketika kami sama-sama masih kuliah. Kantornya berada di Jakarta Selatan sementara kampus berada di Bogor. Kereta api menjadi transportasi satu-satunya yang tergapai. Yah, meski pakai kereta api artinya Tika harus cermat memilih jam keberangkatan. Itupun masih ditambah dengan harap-harap cemas takut keretanya tidak sesuai jadwal.

Tika yang bernama lengkap Siti Sartika Hardiyanti itu memang sudah bekerja ketika lulus kuliah strata 1. Gercep, rapi dan runut menjadi ciri khasnya. Tak butuh waktu lama, tika pun menjadi senior consultant dengan spesifikasi verifikator TKDN.

Bisa dibilang, kerja sudah menjadi dunianya. Usai pernikahan pun tika tetap bekerja. Bahkan ketika Ahsan, anak pertamanya, lahir, Tika masih bekerja beberapa waktu.

Yap, sebagai sesama ibu, saya tau bagaimana beratnya tetap bekerja namun anak dititip. Raga memang di kantor, tapi pikiran ketinggalan di rumah/ tempat penitipan anak.

Wanita memang ahlinya multitasking, tapi tak lantas mengiyakan bahwa bekerja di luar rumah adalah satu hal yang mudah.

Perjalanan Working Mom yang Tak Mulus

Pilihan sulit itu pun tiba. Jarak sekian kilometer rasanya seperti gunung yang terasa berat untuk dilewati kini.
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa ~ Seno Gumira Ajidarma
Mengantri, berdesakan di kereta lalu menghabiskan waktu antara Bogor-Jakarra Selatan kini terlihat mengerikan. Jika ditotal, perjalanan saja sudah menghabiskan waktu sekitar 4 jam sehari. Belum lagi jika kereta tak sesuai jadwal. Beuuh makin tambah tua di jalan deh.

Sementara, Ahsan semakin bertumbuh. Kebutuhannya terhadap ibunya pun makin bertambah.

Diskusi dengan Sang Rabb. Diskusi dengan suami, keluarga dan segenap pihak yang terlibat pun dilakukan. Dan berat hati, pilihan pun jatuh pada resign.

From Working Mom To Stay At Home Mom, Bagaimana Rasanya?

Dulu, ketika kami masih sama-sama kuliah, Tika adalah orang yang bisa diandalkan. Meski pekerjaan kantornya setumpuk tapi tugas kuliahnya juga selalu tepat waktu.

Tujuh tahun bekerja membuat Tika menjadi pribadi yang tangguh dan menghargai waktu. Pun pengalaman-pengalaman yang dia dapatkan juga menjadikannya semakin luwes dalam berinteraksi.

Nah, ketika resign rasanya gimana?

"Rasanya kayak hampa," ujar Tika. Kurang aktualisasi diri. Kemampuan gerak kesana kemari dan mengerjakan ini itu pun semakin menurun. Interaksi dengan orang lain pun semakin kaku.

Meski mengurus anak juga bukan hal yang bisa disebut ringan. Namun, diri sendiri juga perlu tetap bertumbuh.

Jadi Mom Blogger? Kenapa Tidak?

Beruntunglah Tika punya teman kreatif kayak gue (lah muji diri sendiri). Sukanya ngaku introvert tapi sering narsis. Ya, berawal dari pengalaman sharing saya mengenai blog akhirnya Tika tertarik juga menjadi blogger.

Cuman, ya semata-mata bukan karena saya juga (pede amat yak). Sebagai makhluk yang harus mengeluarkan 20ribu kata, Tika merasa butuh wadah penyaluran. Yah, daripada kata-kata itu disalurkan ke anak yang masih kecil atau suami ketemunya cuman malam, maka menulis menjadi cara yang efektif.

Nulis di blog? Ya, kenapa tidak? Blog tak hanya sebagai tempat curhat namun menjadi wadah jurnaling, healing, merawat dan meningkatkan potensi diri serta sebagai saluran kebermanfaatan diri.

Alhamdulillah, berjodoh dengan blogspedia yang membimbing A-Z perihal blog. Dan, disinilah awal mula Tika menjadi mom blogger.

Tips Manajemen Waktu Sebagai Mom Blogger

Tentu tak mudah menjadi mom blogger. Meski pernah menjadi wanita karir dan working mom, namun terlibat kembali dalam kesibukan tentu membuat waktu harus disusun kembali. Nah, coba kita intip tips dari bu Tika tentang manajemen waktu sebagai mom blogger

  • Merencanakan Materi Tulisan

Salah satu tolak ukur sebagai blogger sukses adalah mereka yang mampu konsisten di ranah ini. Syarat utama menjadi blogger adalah menulis. Namun, menulis juga tak asal-asalan. Konsisten dan sesuai dengan topik utama blog.

Sebagai mom blogger yang sehari-hari masih digandulin anak, harus mampu merencanakan materi tulisan. Jika perlu, materi yang diangkat adalah materi up to date yang masih berhubungan dengan topik blog.

  • Menyediakan Waktu Untuk Menulis

Jangan menunggu mood, karena mood itu dibangun bukan ditunggu ~ Marita Ningtyas
Latihan terbaik seorang blogger adalah membangun kebiasaan menulis setiap hari. Tak perlu lama. Sediakan waktu 30-60 menit sehari.

Pilihlah waktu terbaik untuk menulis. Biasanya mom blogger memilih waktu malam setelah anak tidur atau pagi sebelum anak bangun. Namun, menurut Tika, baiknya sudah ada bahan yang akan ditulis sebelum dituangkan dalam kata-kata.

  • Membuat Deadline

Perencana yang baik adalah mereka yang tau kapan harus memulai dan kapan harus berhenti.

Merencanakan deadline membuat Tika menjadi disiplin. Target tulisan pun aka terpenuhi jika deadline ditepati.

Selain itu, deadline membuat kita mampu berpikir secara cermat dan kreatif. Biasanya sih, Orang-orang mampu berpikir di luar kebiasaan ketika sudah mendekati batas waktunya. Pfiuuh.. tapi, jangan ditiru ya. Apalagi sistem kebut semalam. Pokoknya jangan sampai jadi tim cinderella.

**

MasyaAllah, seru banget ya pengalaman bu Tika yang pernah menjadi working mom lalu stay at home mom dan sekarang sebagai mom blogger. Pengalaman berharga itulah yang akan menjadi kenangan berharga nantinya dan bisa dituliskan di blog.

Kira-kira ada yang punya pengalaman sebagai working mom dan memutuskan resign? Gimana sih rasanya? Hehe, bisa ikut koment dibawah yaa. Terimakasih. 
Yusriah Ismail
Bismillah. Selamat datang di perjalanan rasa. Saya Yusriah seorang lifestyle blogger asal Sulawesi Selatan. Saya seorang pembelajar sepanjang masa yang menyukai tentang parenting, read aLoud, marriage dan halal living. Blog ini juga menerima kerjasama berupa kolaborasi (guest post) atau sponsored post. Untuk kontak silahkan hubungi saya via email di yusriah.ismail@gmail.com

Related Posts

8 komentar

  1. dari working mom memutuskan untuk resign dan memilih tetap produktif dengan blogging, proses yang luar biasa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener kak, prosesnya tidak sebentar, penuh pertimbangan pastinya.. terimakasih sudah berkunjung kak

      Hapus
  2. Sebagai seoorang anak yang belum menikah, saya cukup terharu membaca perjuangan seorang ibu yang mengurus anaknya sambil tetap semangat bekerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah satu yg menjadi penguatnya adalah anak 😇 terimakasih sudah berkunjung kak

      Hapus
  3. Deadline, batas waktu yang menakutkan tetapi sering kali kita bermain-main dengannya...^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget kak, kadang masih ditawar pula.. duuhh

      Hapus
  4. Semakin yakin kalau blog bisa memberikan ruang gerak yang tidak boleh disepelekan. Banyaknorang berbagai latar belakang bisa berkarya dan sukses di dalamnya. Makasih ulasannya Kak Yusriyah

    BalasHapus
    Balasan
    1. blog selalu memberi ruang tersendiri yang istimewa 😍 terimakasih sudah berkunjung kak

      Hapus

Posting Komentar