Laporkan Penyalahgunaan

Pengalaman Melahirkan Bayi Sungsang Saat Pandemi

melahirkan-bayi-sungsang

Hai soby (sobat yusri-red),

Alhamdulillah part 2 tentang pengalaman hamil dan melahirkan bayi sungsang saat pandemi, muncul juga. Posisi sungsang saya ketahui ketika usia janin 28 minggu. Kaget, tentu saja. Namun dokter bilang, insyaallah biasanya bayi akan memutar mendekati persalinan.

Tak ayal lagi, perasaan bersalah semakin menekan diri. Mulai dari jarang olahraga, terlalu menuruti keinginan makan apa saja hingga jarang minum vitamin hamil. Ya Allah, padahal salah satu cara agar kondisi janin agar rileks adalah tidak boleh stress. Tapi, kondisinya bikin panik. 

Tiap bulan, kami berharap bahwa janin memutar ke posisi normal. Rasanya setiap usg, cemas dan ingin cepat keluar ruangan. Ngeri setiap mendengar perkataan dokter bahwa bayi belum memutar. Oya, jika ada yang masih bingung posisi bayi sungsang itu seperti apa, simak kebawah ya.

Apa Itu Bayi Sungsang?

Bayi sungsang adalah posisi janin berada diatas dari sumbu badan ibu. Seharusnya posisi kepala berada dibawah. Jujur saja, kondisi ini bikin saya jadi overthinking. Mulai dari kekhawatiran leher janin terlilit oleh tali pusat, posisi panggul saya yang sempit, bayinya yang semakin besar hingga kekhawatiran tidak dapat melahirkan secara normal.

Kenapa Bayi Sungsang?

Posisi bayi yang sungsang membuat saya mencari tahu apa penyebabnya. Meski saya tahu bahwa ketika usia kehamilan masih muda, posisi bayi memang masih bisa berubah-ubah. Bayi masih senang gerak sana sini. Nyari posisi uwenak kalau kata anak jaman sekarang. Namun, menurut dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, SpOG., M.Kes., ada beberapa hal lain yang membuat posisi bayi sungsang, yaitu

  • Volume air ketuban

Air ketuban yang banyak akan membuat bayi mudah bergerak dan berputar. Kondisi ini disebut dengan polyhydromium. Saya jadi ingat saat kelahiran anak pertama, dimana kepala kakak lama sekali turun ke jalan lahir karena air ketuban yang cukup banyak. Apa kondisi calon adik juga begini ya?

  • Kehamilan bayi kembar

Adanya dua bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim memang membuat gerakan terbatas. Hal ini membuat resiko sungsang menjadi lebih tinggi. Tapi, alhamdulillah, kasus kami tidak berada dalam kehamilan kembar.

  • Plasenta previa

Ini adalah salah satu kondisi yang sangat dikhawatirkan ibu hamil sebab plasenta berada dibawah dan menyebabkan jalan lahir tertutup. Biasanya kondisi ini terjadi jika pernah melakukan operasi sebelumnya atau usia ibu berada diatas 35 tahun. Plasenta juga menjadi salah satu kekhawatiran saya, namun alhamdulillah dokter mengatakan posisinya normal.

  • Adanya kelainan atau komplikasi

Kelainan berupa bentuk rahim yang tidak normal atau komplikasi seperti fibroid membuat resiko kelahiran sungsang menjadi besar. Alhamdulillah, rahim saya normal dan dokter tidak mengatakan adanya komplikasi.

Saya pun menebak-nebak kenapa posisi janin masih sungsang sementara perkiraan lahir semakin dekat. Namun ternyata, semakin dipikir, maka bertambah pula kekhawatiran.

  • Panggul ibu sempit

Kondisi ini memang agak kasuistik disetiap ibu. Panggul ibu yang sempit jelas menyebabkan bayi tidak dapat berputar kembali ke posisi yang seharusnya.

Dulu, ketika anak pertama baru lahir, bidan yang menangani saat itu mengatakan untuk menjaga berat badan janin jika hamil lagi. Kata beliau, ada tulang yang agak menonjol di bagian panggul sehingga bayi agak susah turun ketika akan lahir. Entah benar atau tidak, tapi pikiran saya langsung ke arah panggul sempit.

  • Tali pusat melilit

Kadang kala, posisi bayi yang terus berputar-putar di dalam rahim membuat leher terlilit oleh tali pusatnya sendiri. Ini tentu kondisi yang agak ngeri-ngeri sedap ngebayanginnya. Setiap kontrol dan ultrasonografi (usg) usg di dokter pun saya selalu menanyakan kondisi tali pusat. Dokter pun selalu menjawab,"aman bu."

Mengatasi Posisi Bayi Sungsang

"Jangan diputar sendiri ya bu," saran dokter ketika pertama kali mengetahui bahwa posisi bayi sungsang.

"Gimana dok?" tanyaku meminta penjelasan.

"Jangan dibawa ke orang pintar bu, yang katanya bisa muterin bayi sungsang," jawab dokter jelas.

Oh, saya memang pernah dengar sih, ada orang yang mampu memutar bayi. Namun, membayangkannya juga agak ngeri. Saran dokter yang ini sudah pasti saya terima. 

Lalu, setiap saya cerita tentang kondisi kehamilan, ada beberapa saran yang (masuk akal) bisa diikuti, yaitu

  • Posisi Bersujud

Ini mungkin saran yang paling sering diberikan oleh orang lain, baik ahli kesehatan atau tidak. Namun, menurut dokter Ardiansjah, posisi sujudnya adalah dengan menempelkan lutut pada dada dan dahi tidak harus diletakkan pada ubin. Sebagai gantinya, bisa menempelkan pipi kiri atau kanan. Posisi ini disebut sebagai knee position.

Beberapa saran netizen yang saya intip dari komentar youtube adalah bersujud sambil mendengarkan murottal. Audio atau alat apapun ditaruh dibawah perut, persis dimana posisi kepala ada lalu diperdengarkan.

Ketika melakukan posisi ini, tidak usah lama-lama. Cukup 1 menit, angkat kepala dan atur nafas kembali normal lalu lakukan lagi. Usahakan lakukan beberapa kali sebelum tidur atau setelah shalat subuh. Saya biasanya memilih setelah shalat subuh.

  •  Komunikasi

Siapa yang pernah berkomunikasi dengan bayi didalam rahim? Caranya ambil kertas asturo atau kertas tebal lalu bentuk seperti corong. Raba posisi kepala dan ajaklah bayi bicara. Sampaikan dengan lembut keinginan kita disertai doa-doa untuknya.

  • Olahraga Hamil

Kondisi hamil memang membuat seluruh badan pegal. Namun, semakin malas gerak ternyata badan semakin tidak nyaman. Alhamdulillah senam hamil saat ini tidak perlu lagi datang langsung ke kelasnya, apalagi di daerah kami masih jarang kelas khusus seperti itu.

Cukup cari olahraga hamil di youtube. Download dan bisa dinikmati kapan saja. Saya biasanya olahraga bareng anak pertama. Malah dia paling semangat minta saya selalu olahraga. Mungkin senang lihat umminya gerak-gerak lucu. Hehe.

  • Ngepel Manual

Hamil itu berdiri aja susah kan ya? Apalagi jongkok sambil ngepel. Namun, apalah artinya semua itu. Usaha dikit lah ya, nanti Allah yang menilai.

Kebetulan, ketika saya hamil besar, curah hujan di kota kami sedang tinggi. Kondisi rumah pun bocor sebab saluran air yang kecil. Alhasil tiap malam, rumah kami kehujanan. Yah, kadang juga kebanjiran.

Inilah saatnya mengubah musibah jadi kesyukuran. Kan jadi punya alasan buat mengepel lantai. Cuman kudu hati-hati aja. Jangan sampai ibu hamil terpeleset .

  • Jalan Tanpa Alas Kaki

Ini salah satu cara yang paling nikmat saat hamil sudah tua. Udah pasti capek tapi mujarab menghilangkan pegal-pegal di badan.

Jalan tanpa alas kaki di aspal itu rasanya nyetrum sampai di kepala. Apalagi saat kena batu kecil yang agak menonjol. Rileksasi kaki secara gratis.

Kontraksi Asli Atau Palsu?

Sehari sebelumnya, saya ikut olahraga bersama di taman kompleks. Lagunya asik hingga saya berolahraga sambil mengikuti irama dengan enak. Meski kontraksi sering menghampiri (kehamilan kedua ini sering kontraksi mulai dari usia kehamilan 24 bulan) namun masih baik-baik saja.

Siangnya saya ke rumah orangtua karena ada adik yang baru tiba dari Makassar. Alhamdulillah rejeki dedek bayi dibelikan burger enak. Lalu, malamnya saya masih sempat ujian tahfidz. Lancar diawal namun diakhir lupa. astaghfirullah.

Menjelang tengah malam, perut saya semakin tak nyaman. Inikah kontraksi sebenarnya? Saya sudah agak lupa rasanya. Kebetulan seharian ini saya belum buang air besar juga. Namun, setiap jongkok tidak ada yang keluar.

Cek darah juga tak ada yang keluar. Tapi kok perut makin melilit? Rasa apakah ini? Saya sampai tidur duduk dengan alas bantal. Alhamdulillah sempat tahajjud dan shalat hajat.

Paginya, saya mulai melakukan pekerjaan rumah tangga. Cuci piring, jemur baju hingga lipat baju bahkan saya masih posting 1 artikel di blog. Alhamdulillah semua beres sebelum suami berangkat kerja.

"Kok rasanya makin mulas ya?" kataku pada suami. "Jaraknya (kontraksi) jauh tapi makin sering."

"Oke, ikut aja berarti. Nanti tinggal di rumah mama aja," kata suami. Beliau takut ada apa-apa sementara saya hanya berdua dengan anak pertama di rumah.

Rumah Sakit Atau Klinik Bersalin

Jujur saja, hari perkiraan lahir masih agak jauh sehingga kami belum menyiapkan apa-apa. Belum ada tas persalinan dan belum survey klinik tempat persalinan. Gemes gak sih? Wkwkw

Kebingungan melanda sebab posisi bayi sungsang. Saya pun masih bisa merasakan kepala bayi menekan organ dalam (paling terasa itu paru-paru, sebab sampai sesak nafas). Namun, kontraksi semakin intens dan tak ada lama untuk berpikir. Suami juga sudah ke kampus karena harus menguji mahasiswa.

Sebenarnya, hari itu kami akan usg terakhir dengan dokter. Pun, hari itu juga akan memutuskan akan melahirkan normal atau caesar.

Kehendak Allah Terbaik

"Pembukaan 8 bu," sahut bidan jaga saat di VT (vaginal touche). Saya pun berteriak Allahuakbar dan saat suami datang, saya menangis. Tak menyangka kondisi ini cepat terjadi.

Alhamdulillah, akhirnya dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya berangkat ke klinik zam-zam. Salah satu klinik yang diperkirakan akan menerima kami meski kondisi bayi sungsang. Klinik bersalin yang kami pilih memang sering menangani pasien begini dan sangat mengusahakan persalinan normal.

Saya pun diberikan terapi dengan miring ke kiri, menggunakan bantal peanut dan tiup-tiup nafas saat kontraksi datang. Namun, tiup-tiup saya ganti dengan teriak allahuakbar. Ini juga menjadi momen saya mengingat kisah persalinan Maryam a.s.

Selang kurang lebih 4 jam kedatangan kami di klinik, bayi laki-laki sehat dan lengkap pun lahir. Masyaallah.

Bayi Sungsang Lahir Normal, Alhamdulillah

Menurut mama yang melihat kondisi bayi kami saat dilahirkan, bidannya sangat cakap. Ketika bokong keluar duluan, bidan mengeluarkan kaki bayi secara manual satu persatu. Lalu, saya diminta untuk mengedan lagi dan keluarlah bahu bayi. Tangan pun kemudian dibantu untuk dikeluarkan satu per satu oleh bidan. Terakhir, saya diminta mengedan lagi dan muncullah kepala.

Bayi kami saat itu tak langsung menangis saat dikeluarkan. Mungkin terlalu lama menghirup cairan ketuban. Saat dihisap, pecahlah tangisnya yang merdu. Hilang semua rasa sakit saat melahirkan dan hamil. Alhamdulillah bayi sungsang bisa dilahirkan secara normal meski beratnya lumayan besar dan panjang.







Yusriah Ismail
Bismillah. Selamat datang di perjalanan rasa. Saya Yusriah seorang lifestyle blogger asal Sulawesi Selatan. Saya seorang pembelajar sepanjang masa yang menyukai tentang parenting, read aLoud, marriage dan halal living. Blog ini juga menerima kerjasama berupa kolaborasi (guest post) atau sponsored post. Untuk kontak silahkan hubungi saya via email di yusriah.ismail@gmail.com

Related Posts

2 komentar

  1. Mbaaa bacanya ngerih2 sedaaapp... apalagi pas dokter bilang "jangan diputer sendiri yaa bu" yaa Allah ngeriiih

    Tapi maa shaa Allah, alhamdulillah dengan izin Allah bisa lahiran normal, sebagai pembaca jadi ikutan plong dan auto berucap alhamdulillah

    Makasi banyak2 buat bu bidan yang cakap dan baik hati.. mom n baby nya juga hebat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa dek, ngeri banget kalo ada yang berani yaa, tapi ada lho yg bener-bener berani. Saya ngebayanginnya aja takut hehe

      Hapus

Posting Komentar