yusriahismail.com

Surat Untuk Sahabat, Komunikasi Anak 90’an

Cung yang merasa anak era 90’an? Haha

Rasanya gak habis-habis kalau ngomongin nostalgia. Dari pagi sampai pagi lagi hayuu aja dijabanin. Apalagi perkembangan dan kemajuan zaman yang seolah tak selesai. Banyak hal yang tiba-tiba berubah dalam hidup kita. Terutama soal komunikasi.

Apa yang kalian ingat dari trend komunikasi anak tahun 90’an? Perkembangan teknologi saat itu tentu masih minim. Namun, tak menghilangkan generasi mudanya untuk inovatif menciptakan gaya komunikasi yang efektif.

Buktinya, ternyata semua anak tahun 90’an pernah gandrung dengan walkman. Atau mencari huruf N di permen karet Yosan dan gak pernah ketemu. Wkwkw. Termasuk saat itu ramai tentang mIRC. ASL plis.

Salah satu teknik komunikasi yang juga diminati adalah saling berkabar melalui surat. Hampir semua majalah di tahun 90’an memiliki rubrik surat untuk sahabat. Inilah komunikasi anak 90’an yang menjadi ciri khas.

Dulu, saya pernah mengirimkan surat untuk mama. Saat itu mama sedang safar ke Bogor. Tanpa tahu bagaimana berkirim surat via pos, saya polos saja memasukkannya dikotak pos yang tak jauh dari rumah. Dan apa yang terjadi? Surat itu pun kembali. Saya sampai diledekin oleh saudara lainnya. Duh, malunya.

Meski terkesan jadul, kegiatan ini menjadi kenangan yang tak terlupakan. Apalagi, surat untuk sahabat yang ditulis menggunakan tangan ternyata memiliki manfaat yang luar biasa. Apa saja? Yuk simak dibawah ini

1. Melatih Otot-otot Tangan

Kebiasaan melatih jari-jemari dengan menulis menjadi hal yang jarang dilakukan. Pun termasuk saya sendiri, lebih ahli menggunakan handphone atau laptop untuk menulis dibandingkan dengan tangan. Apalagi, ketikan di gadget bisa disimpan dimanapun dan mudah dibawa-bawa.

Dulu, menulis tangan disebut sebagai salah satu seni. Bayangkan saja, ada yang disebut menulis indah. Bukunya pun khusus. Ya kan? Anak-anak jadoel pasti related banget nih. Dan, ada satu sesi tersendiri di sekolah yang memang digunakan untuk berlatih menulis indah.

Menulis memang memaksimalkan otot-otot tangan untuk bergerak. Semakin sering berlatih maka jemari semakin luwes.

2. Ada Pencapaian dengan Rasa yang Lebih Kuat


Beberapa bulan yang lalu, komunitas emak-emak alumni S1 mengadakan kelas menulis sebagai therapy. Uneg-uneg dikeluarkan dalam batas waktu tertentu dan dilihat berapa jumlah kata yang sudah dihasilkan. Saya pun mencobanya dengan menulis menggunakan tangan.

Ternyata ada rasa yang lbih kuat ketika menulis menggunakan tangan dibanding handphone. Rasanya lebih lega dan uneg-uneg tersalurkan dengan maksimal. Teman-teman lain yang mencobanya pun merasa seperti itu.

Menulis surat untuk sahabat mampu untuk mengeluarkan perasaan dan jujur mengakuinya. Perasaan-perasaan itu tertuang bersama setiap goresan pena. Kegiatan ini disebut juga jauh lebih bijaksana dibanding komunikasi digital lainnya.

3. Menciptakan Rasa Bahagia

Apa hal yang pertama kali dirasakan ketika mendapatkan sesuatu? Pasti bahagia ya. Begitu pula ketika kita menerima surat apalagi ketika ketika komunikasi masih terbatas. Janine Ilsey dari LMSW New York mengungkapkan bahwa menulis surat adalah platform kreativitas dengan belas kasih. Tidak hanya untuk penerima tapi juga pengirim surat.

Bertukar cerita dengan orang lain mampu meningkatkan kesehatan mental. Kebahagiaan juga akan meningkat. Mama saya bahkan masih menyimpan surat-surat dari Baba ketika mereka tinggal berjauhan. Saya yang membacanya saat ini bahkan mampu menangkap rasa bahagia itu.
***

Teknologi memang menggerus komunikasi yang tidak sesuai dengan jamannya. Namun, bolehlah sesekali mengajarkan anak cucu mengenai teknik komunikasi yang menyehatkan jiwa raga. Menulis surat untuk sahabat adalah komunikasi anak tahun 90’an yang layak untuk dicoba lagi. Kamu tertarik?


Yusriah Ismail
A Lifestyle Blogger, Read Aloud Certified and Parenthing Enthusiast

Related Posts

Posting Komentar