yusriahismail.com

4 Keseimbangan Hidup Ala Prof Anuraga Jayanegara (Professor Termuda IPB)

Pernah bermimpi menjadi seorang professor? Kalau saya, cita-cita ini belum ada di dreambook. Tapi, tiap kali ada pengukuhan professor (waktu masih di kampus), ingin rasanya selalu menghadiri. Mayan kan ikut makan-makan #eh wkwk

Ingat sekali dulu menghadiri pengukuhan professor bapak kos sy waktu di ITS Surabaya. Beliau humble, baik hati dan sering ngajak ngobrol anak kosnya kalau ketemu (karena jarang sekali dirumah). Ketika di IPB, lebih sering lagi menghadiri pengukuhan professor.

Masyaallah ya, menjadi professor saja sudah membanggakan tapi menjadi professor termuda? Indonesia mencatat banyak sekali yang menjadi professor di usia muda meski kebanyakan pengukuhannya di luar negeri karena memang berkarir disana. Dulu, ada rektor Paramadina yang mencatatkan dirinya menjadi Professor di usia 35 tahun. 

Professor Anuraga sendiri meraih gelar tersebut di usia 37 tahun. Dan kebetulan sekali, kami (saya dan suami) pernah berinteraksi dengan beliau beserta keluarganya. Tentu saja kami tak heran dengan prestasi beliau. Selain tekun, amal ibadah, keluarganya yang harmonis dan akhlaknya patut diacungi jempol.

Btw, karena saya bukan akademisi sejati, jadi gak bahas secara ilmiah dan administratif (?) bagaimana beliau meraih gelar tersebut seperti yang diceritakan di webinar Tips Menjadi Professor Muda. 

Saya bahas sisi humanisnya aja ya. Tapi saya yakin yang ini juga banyak orang sudah tau apalagi kalau sudah kenal beliau dan keluarga hehe #lhangapaintetepdibahasbuk. Gapapa ya. Soalnya bagian keseimbangan hidup ini yang paling berpengaruh dan membentuk seseorang akan menjadi apa.

Empat Kunci Keseimbangan Hidup Ala Prof Anuraga Jayanegara

1. Karir dan Keluarga

Di Webinar kemarin, ada yang menanyakan, bagaimana menyeimbangkan antara karir dan keluarga? Saya ingat, istri beliau, Mbak Dr. Eny Palupi juga seorang dosen di IPB. Juga punya setumpuk tugas kampus dan pastinya kewajiban mendidik anak. Apalagi memiliki 6 orang anak dengan jarak dekat.

Mbak Eny pernah bilang," Tidak ada target mau punya anak berapa, sedikasihnya Allah SWT."

Masyaallah, anak itu rejeki. Karir yang moncer bukan halangan untuk memiliki anak banyak dan mendidik sebaik-baiknya. 

Prof Anuraga menjawab pertanyaan itu dengan terkekeh. Kata beliau, ini cukup sulit juga ya, tapi alhamdulillah istri saya mau membantu mengurus rumah dan mendidik anak.

Laki-laki itu memang tidak bisa multitasking, lanjut beliau. Dan itu sesuai dengan QS. Al-Insyirah : 7 

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),

Maka, tips dari beliau adalah selesaikan satu pekerjaan dulu baru lanjut yang berikut. Begitupun antara karir dan keluarga. Harus tau kapan saatnya menjadi ayah dan kapan saat menjadi  akademisi. Yang paling penting adalah kerjasama dengan pasangan. 

2. Akal, Fisik, Mentalitas (Ruh)

Saat webinar kemarin, beliau selalu mengingatkan agar dzikir menjadi ibadah harian, selain ibadah yang wajib tentunya. 

Saya jadi ingat rumah beliau yang dekat sekali dengan dengan masjid sehingga memudahkan beliau sekeluarga ke masjid setiap 5 waktu. Anak-anaknya pun dibawa serta sejak masih kecil.

Dan cukup mengejutkan ketika beliau mengambil lagi program magister Pendidikan Agama Islam di salah satu penguruan Tinggi Tangerang.

"Saya ini lahir bukan dari keluarga yang paham sekali dengan agama. Apalagi usia segini sangat membutuhkan bimbingan agama," Kurang lebih begitu kata beliau. Masyaallah ya saat akal dan ruh diimbangi. 

Berbicara akal, tak perlu diragukan lagi. Beliau punya waktu khusus untuk menulis dan membaca riset-risetnya. Nah, menariknya sisa uang riset ini tidak pernah beliau gunakan untuk keluarga.

Beliau selalu memisahkan antara dana riset dan pribadi. Bisa dalam bentuk rekening terpisah atau ada catatan khusus. Bahkan kata suami saya, jika dana riset ini berlebih selalu beliau kembalikan. Masyaallah. 

"Jangan sampai keluarga kita tidak berkah hanya karena ada uang yang tidak halal," tegas beliau.

Menyeimbangkan akal, fisik dan mentalitas (run) adalah keseimbangan hidup yang memerlukan proses dan pembiasaan yang tidak sebentar. Juga memerlukan komitmen yang kuat. 

3. Manajerial/ Administrasi (Kebutuhan Maintenance) dan Scientific (Kebutuhan Produktivitas) 

Penanggung jawab kebutuhan tersebut adalah kita sendiri. Maka, kita harus mau mencari tau aturan baru yang berlaku,  adanya folder sendiri seperti SK, Surat Tugas dan Administrasi, mencicil kum sampai menyiapkan strategi riset. 

Seperti sebuah ungkapan, 
Merencanakan adalah setengah dari kesuksesan. 
Beliau juga sering mengikuti workshop atau pelatihan di Indonesia atau Malaysia. Lalu menjalin relasi dengan para peneliti disana. Juga bersilaturahim dengan peneliti yang sedang dikunjungi negaranya.

Pernah suatu kali saya ikutan diundang buka puasa di rumah beliau. Undangannya sebenarnya buat bimbingan Prof Anuraga dan Mbak Eny, tapi alhamdulillah saya yang bukan siapa-siapa ikut diundang juga😭 Beliau mengatakan bahwa mahasiswa bimbingan adalah partner/kolega bukan bawahan. Nah, kalau diginiin siapa yang gak senang ya kerjasama dengan beliau? 

4. Time Management

Nah, bagian ini cocok-cocokan karena aturan waktu orang yang satu biasanya beda dengan dengan lainnya. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Sekarang bagaimana kita mengenali diri dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Prinsipnya adalah bagaimana mengutamakan yang wajib, seperti shalat 5 waktu. Masyaallah, bukan rahasia lagi kalau di IPB banyak dosen yang sudah adzan langsung segera ke masjid/musholla terdekat. 

Lalu manfaatkan waktu pagi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, bahwa pagi adalah keberkahan. Bangun 1 jam lebih awal dari waktu subuh membuat hari lebih segar dan bersemangat. 

Ibadah oke, prestasi meroket.

Masyaallah luar biasa ya. Kejar akhirat, insyaallah dunia dapat. Dibalik sebuah perjuangan, ada proses yang tidak biasa. Kuncinya ada pada keseimbangan hidup yang harus terus diikhtiarkan. Belajar keseimbangan hidup agar bisa menentukan skala prioritas. Semoga gelar dan ilmunya berkah terus ya Prof.

Dan, seperti yang dikatakan penulis favorit sy, Uni Ocha, 
bahwa hidup bukan cuma soal tujuan, tapi proses. Kecepatan kita adalah pilihan hidup kita. Mau cepat atau lambat, bukan soal salah benar. Bukan pula karena orang lain lain lebih cepat atau kita lebih lambat. Kita punya perlombaan masing-masing. Yaitu, melawan diri sendiri. 
Jika ingin cepat, bergegaslah. Tapi sekali-kali melambat lalu menepilah. Ada banyak hal indah yang bisa dilihat hanya dengan melambat. Ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diteropong dengan menepi.

Jadi, tentukan waktumu sendiri 😊

Tabik, 
Yusriah Ismail
Mamak Pembelajar


Yusriah Ismail
A Lifestyle Blogger, Read Aloud Certified and Parenthing Enthusiast

Related Posts

Posting Komentar